Membedah Kegagalan Sistem Tracking: Studi Kasus Pendampingan

Analisa teknis dan struktural kenapa sistem tracking sering gagal meski tools sudah terpasang. Studi kasus pendampingan nyata.
M Rohadi Zakaria

Pengantar: Saat Tracking Sudah Terpasang Tapi Tidak Pernah Hidup

Dalam banyak proyek digital marketing, masalah terbesar bukan pada pilihan tools, melainkan pada bagaimana sistem tersebut dioperasionalkan. Saya sering menemukan kasus di mana tools tracking sudah terinstal, server sudah siap, blueprint data sudah ada, namun sistem tersebut tidak pernah benar-benar digunakan untuk pengambilan keputusan.



Artikel ini membedah satu studi kasus pendampingan sistem tracking digital marketing, dengan fokus pada analisa situasi tim marketing dan teknologi, bukan sekadar aspek teknis.

Konteks Pendampingan Sistem Tracking

Pendampingan dimulai dengan tujuan membangun sistem tracking komprehensif berbasis growth hacking, mencakup pelacakan traffic, lead, hingga konversi lintas channel. Secara teknis, beberapa fondasi sudah berhasil dibangun:

Namun, progres berhenti di fase “terpasang”, bukan “terpakai”.

Temuan Utama: Masalah Bukan di Tools

1. Gap antara Kesiapan Teknis dan Kesiapan Operasional

Secara teknis, sistem sudah mampu merekam data dasar. Namun, tidak ada konfigurasi lanjutan seperti event konversi atau monitoring rutin. Ini menandakan bahwa kesiapan infrastruktur tidak otomatis berarti kesiapan operasional.

2. Tracking Diposisikan sebagai Proyek, Bukan Infrastruktur

Tracking sering diperlakukan sebagai inisiatif tambahan. Akibatnya, ketika prioritas lain dianggap lebih mendesak, tracking menjadi task pertama yang ditunda. Padahal, dalam konteks growth, tracking seharusnya diperlakukan seperti listrik: tidak terlihat, tapi krusial.

3. Ownership yang Tidak Pernah Dikunci

Tidak ada satu peran yang secara eksplisit bertanggung jawab penuh terhadap sistem tracking dari hulu ke hilir. Tanpa ownership yang jelas, tidak ada audit data, tidak ada evaluasi rutin, dan tidak ada feedback loop yang terbentuk.

Dinamika Struktur Tim: Pusat vs Cabang

Salah satu temuan menarik adalah perbedaan cara pengambilan keputusan antara level pusat dan cabang. Di level pusat, keputusan cenderung dibahas secara kolektif dan fleksibel. Di level cabang, tekanan operasional membuat keputusan harus cepat dan pragmatis.

Tanpa mekanisme penguncian keputusan lintas level, inisiatif seperti tracking berada di area abu-abu: disepakati, tetapi tidak pernah benar-benar diwajibkan untuk dieksekusi.

Kolaborasi Marketing dan Teknologi yang Tidak Sinkron

Implementasi tracking melibatkan lebih dari satu peran teknis, seperti webmaster dan fullstack developer, dengan pola kerja yang berbeda. Tanpa peran penghubung yang memahami konteks growth sekaligus implikasi teknis, kebutuhan marketing sering tidak tertranslasi menjadi task teknis yang prioritas.

Dampak Nyata ke Bisnis

  • Optimasi iklan masih bergantung pada data parsial dari platform
  • Tim sales tidak mendapatkan insight kualitas lead yang konsisten
  • Keputusan marketing cenderung berbasis asumsi, bukan data end-to-end

Pelajaran Penting dari Pendampingan Ini

Dari sudut pandang engineering dan growth strategy, ada satu pelajaran utama: sistem tracking gagal bukan karena kurang canggih, melainkan karena tidak memiliki mandat eksekusi yang tegas.

Tanpa penguncian ownership, tracking akan selalu berhenti di tahap perencanaan atau instalasi. Dan tanpa feedback loop, data tidak pernah berubah menjadi insight.

Kesimpulan & Verdict

Verdict: Dalam proyek tracking digital marketing, masalah utama hampir selalu berada di struktur keputusan dan ownership, bukan pada tools. Open source maupun SaaS sama-sama akan gagal jika sistem tidak diperlakukan sebagai infrastruktur wajib, bukan proyek sampingan.

Posting Komentar